Trik Memancing  Imaji Dalam Menulis Cerpen

Menulislah apa yang kita ketahui, baik dari segi pemikiran atau pandangan secara kasat mata. Betapa tidak, logikanya menulis apa jika kita tak tahu apa yang hendak ditulis atau dituangkan jika tak ada dalam pikiran. Ya, mungkin begitulah secara simpelnya.

Sebagai orang awam dalam dunia penulisan saya tak membahas yang jauh karena yang jauh itu belum saya ketahui. Yang jauh bisa diartikan sebuah lokasi atau medan yang memang jauh dan belum pernah dikunjungi. Bisa juga yang jauh itu adalah orang lain yang nyatanya berbeda dengan diri kita sendiri.

Dengan keterbatasan itu saya akan menulis yang telah saya alami dan ketahui,. Sejak lama saya lebih menyukai tulisan prosa ketimbang artikel.  Alasannya menulis prosa kesannya lebih santai dan tidak harus ribet seperti halnya m,enulis artikel.  Menulis artikel macam tips-trik, opini, resep masak atau ulasan tetentu tentu harus diperlukan data-data khusus yang akurat. Jadi sangat berbeda dengan penulisan karya fiksi  model cerpen atau cerbung.

Kecintaan saya terhadap karya prosa dalam  sesi ini penulisan cerpen sangatlah menyenangkan. Alasannya disamping tak terlalu memerlukan data sperti telah disebutkan tadi  menulis karya fiksi (cerpen) tidak merasa terbebani dengan sisipan-sisipan.

Sebenarnya menulis cerpen juga ada kaidahny6a, selain ide,-tema,f lot dan gaya tertentu dalam penguraian kisah. Pengalaman saya yang masih mentah menulis cerpen kadang idenya timbul dari kegem,biraan, dendam, pengalaman orang lain atau kedzaliman oknum penguasa. Semua ide tersebut dikemas dalam aneka gaya, baik itu gaya bertutur, dialog atau macam protes bahkan dalam suatu bentuk kelebayan.

Menulis karya fiksi berupa cerpen bagi pemula model saya kadang juga pakai jurus gila atau kusut. Dikonsep  dengan nada marah-marah atau bentuk kerinduan yang teramat sangat. Misalnya marah  dan kecewa pada perilaku penjilat atau ketololan diri. Rindu pada kekasih yang tiba-tiba pergi. Ide gila bisa saja macam pengalaman imaji yang mendadak mencengangkan. Misal, "Sungguh tak menyangka jika Kang Komar yang santun dan agamis itu tiba-tiba menjadi gila!" Cara seperti ini demi memancing imaji liar selanjutnya.

Demi mengalirkan imaji dan tak terkesan beku, usahakan jangan dulu terbebani dengan kaidah-kaidah menulis. abaikan dulu soal alinea, paragraf, huruf besar keci termasuk tanda baca. Biarkan imaji berselancar bebas dulu sebelum kemudian menemui " jatidirnya"  sebagai tema.

Menulis,  menulis, menulislah dulu. Namun menulis tak bisa dipisahkan dengan membaca, Jadi idealnya menulis dan membaca. Setelah ditulis kemudian dibaca, dikoreksi, dibenahi, dibaca lagi, Menulis lagi dan baca lagi hingga kegiatan itu jadi biasa.

Demikianlah sekadar ulasan singkat dari seorang awam model saya, tentang dunia menulis yang menyenangkan, terlebih dalam menulis karya fiksi berupa cerpen. Lebih kurangnya mohon dimaafkan. Salam sejahtera!


Cerita ini bisa dibaca di : Trik Memancing Imaji Dalam Menulis Cerpen